Monday, July 06, 2009

Menanti Pasti... 24

'Abang... apa kata kita ambil saja anak angkat ?'

'Hmmm... kenapa cakap macam tu ?'

'Saya sunyi... saya ingin menyayangi anak kecil'

'Mana ada orang nak beri pada kita ?'

'Kita cari lah anak orang miskin miskin atau anak yang terbiar'

'Susah... anak yang tak tentu ibu bapanya... Nanti masa depan mereka jadi tak ok, kita salah.'

'Kita ambil anak orang miskin'

'Nanti bila mereka rasa sayang, mereka nak semula anak mereka, macam mana ?'

'Hmmmm....'

Awani terdiam bila bersoal jawab dengan suaminya. Tapi perasaan ingin menyayangi si kecil begitu mendesak desak dalam dirinya. Terasa kasih sayang yang melimpah ruah dalam dadanya perlu dicurahkan pada seseorang. Terasa ingin saja Awani memeluk sikecil yang dirindui siang dan malam.

Lantas, tanpa peduli kata kata Haizat, Awani tetap mencari cari peluang untuk mendapatkan anak angkat. Awani menalifon ke jabatan kebajikan masyarakat dan juga memberitahu keluarga tentang keinginannya.

Ibu Awani bersetuju untuk mencari jika ada baby yang sesuai. Awani menanti... Awani berharap dengan kehadiran sikecil itu, biarpun bukan darah daging sendiri, akan menyerikan lagi rumah tangga mereka.

Saat Kak Ngah menyuarakan hasrat ingin memberikan anaknya pada Awani, tiada kata yang dapat Awani ucapkan. Kak Ngah simpati pada Awani. Kak Ngah pernah hadapi situasi dikatakan 'mandul' sangat faham perasaan Awani. Sekarang, Kak Ngah menanti anak ke 7nya. Awani berharap agar Kak Ngah dapat mengotakan janjinya. Tapi, Awani juga bersiap sedia jika Kak Ngah tidak mengotakan janjinya.

Anak bukan barangan... tentu bukan semudah memberikan kain baju atau barangan apa saja pada orang. Anak adalah anugerah terindah, tentu saja tidak semudah memberi kata janji... dan jika Kak Ngah tidak mengotakan janji, Awani tidak menyalahkan Kak Ngah...

"Bila Kak Ngah dapat anak nanti, Awani ambil la... jaga seperti anak sendiri"

"Yer la Kak Ngah... Kak Ngah jangan risau... saya ingin menyayangi dan rasa disayangi"

Itu pesan Kak Ngah pada Awani....

Awani menanti penuh debar saat saat Kak Ngah ingin bersalin. Waktu waktu terakhir Kak Ngah menanti kelahiran, Awani berlagak biasa seakan tidak berharap. Sedangkan dalam hatinya, hanya Tuhan yang tahu.

"Awani... anak anak Kak Ngah pesan, kalau anak yang lahir ni perempuan, mereka ingin jaga"
"Kalau anak lelaki, Awani ambil la..."

"Hmmmm... tak apa la kak...."

"Tapi Kak Ngah dah scan, katanya anak lelaki"

Jika ada bersyarat begini, Awani terus pendamkan gelora hati. Perlahan lahan Awani menarik diri dan belajar menerima takdir yang anak itu tidak mungkin menjadi milik Awani.

Peratusan untuk memberi anak ini terlalu rendah... dan Awani terus menyepi waktu Kak Ani mengkhabarkan kelahiran anaknya itu. Dan bila dimaklumkan anaknya yang lahir itu perempuan, Awani terus diam... dan terus diam...

Awani terus mencari anak lain yang bakal mengisi ruang kosong dalam diri dan rumah tangganya...

Sukar betul mencari... apa lagi menanti...

Dan, Awani terus menanti agar suatu hari nanti ada tangisan si kecil di rumah mereka yang sepi ini...
Posted by Picasa

2 Comments:

  1. Kakak said...
    Memang penantian satu penyiksaan. Awani memang tabah menanti dan sikap tidak terlalu berharap dan redha menerima memang baik.
    izawani/JEEN said...
    Hanya yang mengalami tahu betapa kita perlu bersabar utk menimang cahaya mata sendiri. Yang memandang kekadang lebih tidak sabar dari yang sedang mengalami... dan akan terluahlah kata kata yang mengguris hati mereka... kan ?

Post a Comment